Hukum Melafalkan Niat dalam Shalat

Adapun hukum melafalkan niat shalat pada saat menjelang takbiratul ihram menurut kesepakatan para pengikut mazhab Imam Syafi’iy (Syafi’iyah) dan pengikut mazhab Imam Ahmad bin Hambal (Hanabilah) adalah sunnah, karena melafalkan niat sebelum takbir dapat membantu untuk mengingatkan hati sehingga membuat seseorang lebih khusyu’ dalam melaksanakan shalatnya.

Jika seseorang salah dalam melafalkan niat sehingga tidak sesuai dengan niatnya, seperti melafalkan niat shalat ‘Ashar tetapi niatnya shalat Dzuhur, maka yang dianggap adalah niatnya bukan lafal niatnya. Sebab apa yang diucapkan oleh mulut itu (shalat ‘Ashar) bukanlah niat, ia hanya membantu mengingatkan hati. Salah ucap tidak mempengaruhi niat dalam hati sepanjang niatnya itu masih benar.

Menurut pengikut mazhab Imam Malik (Malikiyah) dan pengikut Imam Abu Hanifah (Hanafiyah) bahwa melafalkan niat shalat sebelum takbiratul ihram tidak disyari’atkan kecuali bagi orang yang terkena penyakit was was (ragu terhadap niatnya sendiri). Menurut penjelasan Malikiyah, bahwa melafalkan niat shalat sebelum takbir menyalahi keutamaan (khilaful aula), tetapi bagi orang yang terkena penyakit was was hukum melafalkan niat sebelum shalat adalah sunnah. Sedangkan penjelasan al Hanafiyah bahwa melafalkan niat shalat sebelum takbir adalah bid’ah, namun dianggap baik (istihsan) melafalkan niat bagi orang yang terkena penyakit was was.

Sebenarnya tentang melafalkan niat dalam suatu ibadah wajib pernah dilakukan oleh Rasulullah saw pada saat melaksanakan ibadah haji.

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ الله ُعَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلّّمَ يَقُوْلُ لَبَّيْكَ عُمْرَةً وَحَجًّاً

“Dari Anas r.a. berkata: Saya mendengar Rasullah saw mengucapkan, “Labbaika, aku sengaja mengerjakan umrah dan haji”.” (HR. Muslim).

Memang ketika Nabi Muhammad SAW  melafalkan niat itu dalam menjalankan ibadah haji, bukan shalat, wudlu’ atau ibadah puasa, tetapi tidak berarti selain haji tidak bisa diqiyaskan atau dianalogikan sama sekali atau ditutup sama sekali untuk melafalkan niat.

Memang tempatnya niat ada di hati, tetapi untuk sahnya niat dalam ibadah itu disyaratkan empat hal, yaitu Islam, berakal sehat (tamyiz), mengetahui sesuatu yang diniatkan dan tidak ada sesuatu yang merusak niat.  Syarat yang nomor tiga (mengetahui sesuatu yang diniatkan) menjadi tolok ukur tentang diwajibkannya niat. Menurut ulama fiqh, niat diwajibkan dalam dua hal. Pertama, untuk membedakan antara ibadah dengan kebiasaan (adat), seperti membedakan orang yang beri’tikaf di masjid dengan orang yang beristirahat di masjid. Kedua, untuk membedakan antara suatu ibadah dengan ibadah lainnya, seperti membedakan antara shalat Dzuhur dan shalat ‘Ashar.

Karena melafalkan niat sebelum shalat tidak termasuk dalam dua kategori tersebut tetapi pernah dilakukan Nabi Muhammad dalam ibadah hajinya, maka hukum melafalkan niat adalah sunnah. Imam Ramli mengatakan:

وَيُنْدَبُ النُّطْقُ بِالمَنْوِيْ قُبَيْلَ التَّكْبِيْرِ لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ القَلْبَ وَلِأَنَّهُ أَبْعَدُ عَنِ الوِسْوَاسِ وَلِلْخُرُوْجِ مِنْ خِلاَفِ مَنْ أَوْجَبَهُ

“Disunnahkan melafalkan niat menjelang takbir (shalat) agar mulut dapat membantu (kekhusyu’-an) hati, agar terhindar dari gangguan hati dank arena menghindar dari perbedaan pendapat yang mewajibkan melafalkan niat”. (Nihayatul Muhtaj, juz I,: 437)

Jadi, fungsi melafalkan niat adalah untuk mengingatkan hati agar lebih siap dalam melaksanakan shalat sehingga dapat mendorong pada kekhusyu’an. Karena melafalkan niat sebelum shalat hukumnya sunnah, maka jika dikerjakan dapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa. Adapun memfitnah, bertentangan dan perpecahan antar umat Islam karena masalah hukum sunnah adalah menyalahi syri’at Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawab.

source :

H.M.Cholil Nafis, MA.
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU
di ambil dari nu.or.id
Iklan

THARIQAH QADIRIYAH NAQSABANDIYAH

Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah adalah perpaduan dari dua buah tarekat besar, yaitu Thariqah Qadiriyah dan Thariqah Naqsabandiyah.Pendiri tarekat baru ini adalah seorang Sufi Syaikh besar Masjid Al-Haram di Makkah al-Mukarramah bernama Syaikh Ahmad Khatib Ibn Abd.Ghaffar al-Sambasi al-Jawi (w.1878 M.). Beliau adalah seorang ulama besar dari Indonesia yang tinggal sampai akhir hayatnya di Makkah.

Syaikh Ahmad Khatib adalah mursyid Thariqah Qadiriyah, di samping juga mursyid dalam Thariqah Naqsabandiyah. Tetapi ia hanya menyebutkan silsilah tarekatnya dari sanad Thariqah Qadiriyah saja. Sampai sekarang belum diketemukan secara pasti dari sanad mana beliau menerima bai’at Thariqah Naqsabandiyah.

Sebagai seorang mursyid yang kamil mukammil Syaikh Ahmad Khatib sebenarnya memiliki otoritas untuk membuat modifikasi tersendiri bagi tarekat yang dipimpinnya. Karena dalam tradisi Thariqah Qadiriyah memang ada kebebasan untuk itu bagi yang telah mempunyai derajat mursyid. Karena pada masanya telah jelas ada pusat penyebaran Thariqah Naqsabandiyah di kota suci Makkah maupun di Madinah, maka sangat dimungkinkan ia mendapat bai’at dari tarekat tersebut. Kemudian menggabungkan inti ajaran kedua tarekat tersebut, yaitu Thariqah Qadiriyah dan Thariqah Naqsabandiyah dan mengajarkannya kepada murid-muridnya, khususnya yang berasal dari Indonesia.

Penggabungan inti ajaran kedua tarekat tersebut karena pertimbangan logis dan strategis, bahwa kedua tarekat tersebut memiliki inti ajaran yang saling melengakapi, terutama jenis dzikir dan metodenya. Di samping keduanya memiliki kecenderungan yang sama, yaitu sama-sama menekankan pentingnya syari’at dan menentang faham Wihdatul Wujud.

Thariqah Qadiriyah mengajarkan Dzikir Jahr Nafi Itsbat, sedangkan Thariqah Naqsabandiyah mengajarkan Dzikir Sirri Ism Dzat. Dengan penggabungan kedua jenis tersebut diharapkan para muridnya akan mencapai derajat kesufian yang lebih tinggi, dengan cara yang lebih mudah atau lebih efektif dan efisien.

Dalam kitab Fath al-‘Arifin, dinyatakan tarekat ini tidak hanya merupakan penggabungan dari dua tarekat tersebut. Tetapi merupakan penggabungan dan modifikasi berdasarkan ajaran lima tarekat, yaitu Tarekat Qadiriyah, Tarekat Anfasiyah, Junaidiyah, dan Tarekat Muwafaqah (Samaniyah). Karena yang diutamakan adalah ajaran Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah, maka tarekat tersebut diberi nama Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah.

Disinyalir tarekat ini tidak berkembang di kawasan lain (selain kawasan Asia Tenggara). Penamaan tarekat ini tidak terlepas dari sikap tawadlu’ dan ta’dhim Syaikh Ahmad Khathib al-Sambasi terhadap pendiri kedua tarekat tersebut. Beliau tidak menisbatkan nama tarekat itu kepada namanya. Padahal kalau melihat modifikasi ajaran yang ada dan tatacara ritual tarekat itu, sebenarnya layak kalau ia disebut dengan nama Tarekat Khathibiyah atau Sambasiyah, karena memang tarekat ini adalah hasil ijtihadnya.

Sebagai suatu mazhab dalam tasawuf, Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah memiliki ajaran yang diyakini kebenarannya, terutama dalam hal-hal kesufian. Beberapa ajaran yang merupakan pandangan para pengikut tarekat ini bertalian dengan masalah tarekat atau metode untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Metode tersebut diyakini paling efektif dan efisien. Karena ajaran dalam tarekat ini semuanya didasarkan pada Al-Qur’an, Al-Hadits, dan perkataan para ‘ulama arifin dari kalangan Salafus shalihin.

Setidaknya ada empat ajaran pokok dalam tarekat ini, yaitu : tentang kesempurnaan suluk, tentang adab (etika), tentang dzikir, dan tentang murakabah.

Shalat Sunah Maghrib-Isya

DIANTARA MAGHRIB – ISYA DAN KEUTAMAAN DZIKIR

SETELAH SHOLAT MAGRIB HINGGA ISYA

Ø Sabda Rasulullah Saw :

“Barangsiapa shalat sehabis Maghrib enam raka’at saja dengan tidak diselingi bercakap-cakap, maka pahalanya sebanding dengan ibadah dua belas tahun”.(H.R. Bukhari Muslim)

Ø Abu Hurairah ra, mengatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda :

“Barangsiapa melaksanakan shalat setelah Maghrib enam raka’at, ia tidak bicara kejelekkan pada waktu itu, maka baginya pahala ibadah sebanding dua belas tahun”.(H.R. Ibnu Majah Ibnu Huzaimah dan Tirmizi)

Ø Hadis riwayat Aisyah :

“Barangsiapa melakukan sholat dua puluh raka’at setelah maghrib, maka Allah akan membangun baginya satu rumah di surga”. (H.R Ibnu Majah dan Tirmizi)

Ø Sabda Rasulullah Saw :

“Barangsiapa yang sholat antara Maghrib dan Isya dua puluh raka’at maka Allah dirikan untuknya gedung di surga”. (Al-Hadits)

Ø Huzhaifah ra, berkata :

“Aku mendatangi Nabi Saw lalu aku shalat Maghrib bersama Nabi hingga shalat Isya”. (H.R. Nasa’i)

Ø Abu Syaikh meriwayatkan hadis dari Zubair ra :

“Barangsiapa duduk berdzikir setelah shalat Maghrib hingga shalat Isya, nilai duduknya itu sama dengan perang dijalan Allah. Dan barangsiapa duduk berdzikir setelah shalat subuh hingga matahari terbit, nilainya sama dengan pergi berjuang dijalan Allah”.

Ø Hadis riwayat Ibnu Hibban :

“Perbanyaklah dzikir (ingat) kepada Allah sehingga orang-orang mengatakan bahwa (kamu) adalah orang gila”.

Ø Sabda Rasulullah Saw :

“Maukah aku kabarkan kepada kalian mengenai amal-amal kalian yang paling baik, yang paling suci disisi Tuhan kalian, yang dapat meningkatkan keluhuran derajat kalian, yang lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, dan yang lebih baik bagi kalian daripada bertemu dengan musuh kalian sehingga kalian memukul leher-leher mereka dan mereka memukul leher-leher kalian?”Mereka (para sahabat) berkata : “Baiklah, wahai Rasulullah!”Beliau bersabda : “Dzikir (ingat) kepada Allah Yang Maha Agung lagi Maha Luhur”.

(H.R Muslim, Nasa’i dan Bazzar ra)

Sholat-sholat sunnat antara Maghrib – Isya :

§ Shalat sunnat ba’da Maghrib (dua raka’at)

§ Shalat sunnat Awwabin (khusus awwabin saja)  (dua raka’at)

§ Shalat sunnat Awwabin serta Hifdhil Iman  ( dua raka’at )

§ Shalat sunnat Awwabin serta Istikharah  (dua raka’at)

§ Shalat sunnat Hajat  (dua raka’at)

§ Shalat sunnat Birrulwaalidaini (dua raka’at)

§ Shalat sunnat Halala-Hajati (Saefi) (dua raka’at)

§ Shalat sunnat Lidafil Bala’i  (dua raka’at)

§ Shalat sunnat Ikhlas  (dua raka’at)

§ Shalat sunnat Muthlaq ( dua raka’at )

Atau :

§ Sunnat ba’da Maghrib (dua raka’at)

§ Sunnat Awwabin (enam raka’at atau paling sedikit dua raka’at)

§ Sunnat Taubat (dua raka’at)

§ Sunnat Birrulwalidaini (untuk kebaikan dan keselamatan orang tua didunia dan akherat) ( dua raka’at)

§ Sunnat Lihifdhil Iman (untuk menjaga keimanan kita sampai hari qiamat) ( dua raka’at )

§ Sunnat Lisyukri Nikmat (dua raka’at)

” Jangan sia-siakan waktumu karena waktu itu

sangat mahal “

Hukum Membaca Basmalah dalam Al-Fatihah (Sholat)

HUKUM MEMBACA BASMALAH DALAM FATIHAH SHOLAT

1. Maliki

Tidak memakai Bismillah karena Bismillah bukan ayat dari Surat Al-Fatihah

Dari Aisyah r.a : “Sesungguhnya Rosulullah memulai sholat dengan takbir dan membaca alhamdulillahi robbil’alamin(Riwayat Muslim)

2. Hanafi

Membaca Basmalah dalam Fatihah sholat itu hukumnya wajib namun dengan suara pelan.

Dalam riwayat lain bagi Ibnu Huzaimah : “Mereka membaca Bismillahir-rahmaanir-raahiim”membacanya dengan pelan”. (Subulus Salam I/333).

3. Hambali

Membaca Basmallah dengan pelan dan tidak sunat untuk dikeraskan.

4. Syafi’i

Wajib membaca Basmallah

a. Abu Hurairoh r.a, Nabi Muhammad SAW: Sesungguhnya rosulluloh telah bersabda “Jika kalian membaca alhamdulillahi robbil’alamin, maka bacalah bismillaahir rohmaanir rohiim. Sesungguhnya itu ummul Qur’an, ummul kitab, dan sab’ul matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang), dan bismillaahir rohmaanir rohiim termasuk salah satu ayat surat Al-Fatihah. (Riwayat Daruqutni dari Hadits Abdul Hamid bin Za’far dari Nuh bin Abi Bilal dari Sa’id bin Sa’id Al-Maqburi dari Abu Hurairoh r.a)

b. Hadits Anas r.a, sesungguhnya ia ditanya tentang bacaan rosululloh SAW dalam sholat, jawab Anas “Sesungguhnya rosululloh memanjangkan bacaannya… seterusnya beliau membaca bismillaahir rohmaanir rohiim alhamdulillahir robbil’alamiin maaliki yaumid diin…” (riwayat Bukhori)

Tasawwuf untuk mensucikan Hati

Apa arti tasawwuf..?,

Tasawwuf berasal dari kata shafa (bersih), karena kriterianya ialah kebersihan (kesucian) hati. dengan mengikhlaskan pengabdian hanya kepada Allah.

Tasawwuf bagaikan lautan Dzikir Laa Illaaha Illallaah.

ibadah yang tidak dengan dzikir (ingat)  kepada Allah adalah gerak-gerik yang kosong/hampa. oleh karena itu Allah mengingatkan dalam Al Qur’an (artinya) :

“Celakalah mereka yang mengerjakan shalat yang lalai dalam mengerjakan shalatnya.” (QS.Al-Maun : 4-5).

Maksudnya :

dia melakukan shalat hanya dengan fisiknya namum tidak ada pengaruhnya (shalat) itu pada hatinya. Fisik menghadap ke Kiblat tetapi hati tidak khusyu. atau yang selalu melalaikan, acuh akan waktu awal shalat (selalu shalatnya akhir bahkan sampai kelewat). 

sedangkan unsur-unsur Tasawwuf antara lain : Tawakal, sabar, tekun, khusyu beribadah memusatkan hatinya hanya kepada Allah Swt.

  • Bertasawwuf selalu menjaga keadaan hati ingat kepada Allah;
  • Bertasawwuf adalah membersihkan hati dan berMujahadah kepada Allah;
  • Bertasawwuf yaitu menghias diri dengan ahlak yang terpuji, melepaskan diri dari ahlak yang tercela dan mendekatkan diri kepada Allah;
  • Bertasawwuf adalah orang yang ingin hatinya dibersihkan Allah dan yang masuk ke dalam hakikat orang yang dapat mersakan lezatnya berdzikir kepada Allah Swt;
  • Bertasawwuf merupakan permulaannya Ma’rifatullah dan akhirnya mentauhidkan Allah.
Jadi dengan melaksanakan ajaran tasawwuf Islam berarti telah mengikuti jalan lurus yang telah di tempuh oleh keempat golongan, yaitu :
  1. Para Nabiyullah,  Para Nabi Allah merupakan utusan yang pertama dan utama, karena mereka telah menempati ranking tertinggi dalam pengabdian kepada Allah Swt.dengan tugas memimpin umat ke arah jalan yang lurus yang di tunjuki-Nyadengan beraneka ragam derita / cobaan yang di alaminya.
  2. Para Sahabat, Para Sahabat karib Nabi Saw., yaitu Abu bakar Siddiq, Umar, Utsman dan Ali bin Abi Thalib. Cintanya kepada Nabi Saw melebihi cintanya kepada anak dan isterinya. imannya tak tergoyahkan dalam keadaan bagaimanapun. Mereka menjadi tangan kanan  Nabi Saw dalam menyiarkan serta mengembangkan agama islam.
  3. Para Wliyullah, yakni mereka yang pada masa hidupnya lebih banyak mengikuti jejak sahabat Nabi Saw. selalu mengkonsentrasikan segala ingatan, perasaan dan tujuannya semata-mata kepad Allah / dzikrullah, selalu rasa cintanya kepada Allah sangat mendalam.
  4. Orang-orang Shaleh,  yaitu orang-orang yang beriman yang mengikuti jejak tiga golongan di atas dan memiliki kehlian tertentu. keahliannya bukan hanya untuk kepentingan diri pribadi besrta keluarganya, melainkan juga untuk kemanusiaan dan agama (mengutamakan mendekatkan diri kepad Allah).
selanjutnya adalah umat islam yang mengikutijejak pendahulu mereka yang keempat golongan tersebut di atas, mereka tidak merasa keberatan sedikitpun dalam menerima syari’at islam walau harus mengalami ujian yang tidak jenti-hentinya. sejalan dengan Firman Allah :
” Barangsiapa yang di kehendaki Allah mendapat hidayah (petunjuk) pasti orang itu akan terbuka hatinya dan lapang dadanya menerima islam. Sebaliknya yang di kehendaki sesat pasti dadanya merasa sesak, hatinya menjadi sempit untuk islam, seolah-olah ia diajak mendaki langit.” (QS.Al-An’aam:125).

Manfaatnya Tasawwuf  adalah sebagai dasar pokok kekuatan bathin, pembersih jiwa, pemupuk iman, penyubur amal shaleh semata-mata mencari keridhaan Allah, memperkuat daya juang dengan sifat-sifat : sabar, syukur,ridha,ikhlas, sikap ramah-tamah, muka jernih dan bermoral luhur yang kesemuanya itu adalah sifat-sifat yang bernilai tinggi.

Orang yang lapang dadanya menerima tasawwuf Islam pertanda memperoleh hidayah Allah, sebaliknya yang masih merasa berat menerima sebagai pandangan hidupnya, dituntut untuk terus berusaha meraih petunjuk Tasawwuf / Thoriqot.

semoga catatan kecil tentang Tasawwuf ini dapat memberikan secercah Cahaya Kebenaran bagi pembaca supaya terbuka hatinya untuk mempelajari islam secara kaaffah (menyeluruh) sesuai dengan Firman Allah  (artinya):
” Hai orang-orang yang beriman ! masuklah kamu ke dalam Islam seluruhnya / sebulat-bulatnya”. (QS.Al-Baqarah:208).

Apa itu Thoriqot ?

Thoriqot, dalam bahasa kita diucapkan tarekat atau suluk. Thoriqot itu sendiri artinya jalan, metode atau cara .Sebagaimana diriwayatkan oleh Sahabat Rasull Saw yaitu Sayidina Ali Ra. ”Qoola a’liyy bin Abi Thalib: Qultu yaa Rosuulolloh ayyun thoriiqotin aqrobu ilallohi? Faqoola Rasullulohi: dzikrullahi”. Artinya; “Ali Bin Abi Thalib berkata; “aku bertanya kepada Rasullulah, jalan/metode(Thariqot) apakah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah? “Rasullulah menjawab; “Dzikrulah.” Sementara dari segi etimologi, sebagaimana yang dikatakan oleh Nurcholis Majid, Thoriqot adalah cara atau jalan untuk mendekatkan diri pada Allah. Atau sebagaimana yang dikatakan oleh Dr,Mustafa Zahri, thoriqot adalah suatu sistem untuk menempuh jalan yang pada akhirnya mengenal dan merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari dan menjadikan keadaan seseorang dapat melihat Allah dengan mata hatinya.

Di dalam kitab Tanwirul Qulub halaman 407 thoriqot itu adalah mengamalkan syariat dan mengambil sesuatu yang paling penting, menjauhi sesuatu yang mudah atau ringan dari sesuatu tidak pantas disepelekan. Juga menjauhi hal-hal yang diharamkan dan dimakruhkan dan melaksanakan yang fardlu serta sunat-sunatnya sesuai kemampuannya yang dibimbing oleh seorang yang telah ma’rifat kepada Allah (guru mursyid).

Sedangkan Prof.Dr.Buya Hamka, mengatakan: “Maka diantara makhluk dan khaliq itu ada perjalanan yang harus kita tempuh. Inilah yang kita katakan Thariqot. Jadi penulis simpulkanThoriqot adalah suatu jalan, cara atau metode yang ditempuh oleh seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT baik lahir maupun batin. Menurut para ‘Alim Ulama ahli ma’rifat thoriqotterbagi dua: 1) Thoriqot Suluk, yaitu membersihkan nafsu dari segala kotoran dengan cara riyadloh (latihan), seperti berpuasa, tidak tidur (melek), uzlah (menyendiri), zuhud (meninggalkan dunia) dengan bimbingan mursyid (guru atau pembingbing ruhani) agar bisa mencapai tingkatan dmi tingkatan kepada maqom(kedudukan) yang sempurna. Bahkan menurut Imam Al Ghazali: “Barang siapa yang telah bertafaqur dalam masalah agama (memahami, mempelajari, mengamalkan agar mendapat ridlo Allah, hal itu juga disebut thoriqot suluk). 2) Thoriqot Tabaruk yaitu murid mengambil dzikir dari guru Mursyid agar hatinya tidak lupa kepada Allah, supaya diampuni dosa, jauh dari macam-macam balai, selamat dari hal-hal yang dibenci syara,selamat dari perbuatan hina dan siksaan Allah sehingga sampai kepada tujuan yaitu hati bersih dan kembali menghadap Allah. Contoh Thoriqot Tabaruk ini seperti yang diamalkan di Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya yang dipimpin oleh seorangMursyid Syekh Ahmad Sohibul Wafa Tajul Arifin Ra yang dikenal Abah Anom.

Jadi, thoriqot bukanlah aliran kepercayaan atau aliran kebatinan, tetapi thoriqot adalah bagian dari ajaran Agama Islam yang terpenting. Sebagaimana sabda Rasullulah SAW : “Asysyari’atu aqwaalii athoriiqotu af’aalii alhaqiiqotu ahwaalii alma’rifatu ro’sul maalii” (HR. Anas bin Malik). Artinya: “Syari’at itu ucapanku,thoriqot itu perbuatanku, hakikat itu keadaanku dan ma’rifat itu puncak kekayaan (batin)”(HR. Anas bin Malik).

Namun perlu kita ketahui, dari semua Thoriqot itu ada yang benar dan ada yang salah. Thoriqot yang benar disebutThoriqot Mu’tabaroh yaitu Thoriqot yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits dan sanadnya atau silsilahnya sampai kepada Rasullulah, Salah satu Thoriqot yang telah diakui oleh semua ulama termasuk para pengkaji ajaran tasawuf di Indonesia, salah satunya adalah Thoriqot Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyahyang berpusat di Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya.Sedangkan Thoriqot yang salah disebut Thoriqot Ghoyr Mu’tabaroh yaitu Thoriqot yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits dan sanadnya atau silsilahnya tidak sampai kepada Rasullulah.

Hukum membaca surat Al-Fatihah bagi makmum

HUKUM MEMBACA SURAT AL-FATIHAH BAGI MAKMUM

a. Ulama Hanafiyah melarang makmum membaca fatihah secaramutlaq

Dengan alasan :

1. Nash Al-Qur’an yaitu firman Allah SWT :

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf (7) : 204)

2. Hadits yang diriwayatkan oleh abu Hanifah dari Abdullah bin Syaddaad dari Jabir bin Abdullah r.a, bahwa rosululloh SAW, bersabda :

Man sholla kholfa imaamin fa inna qiroo’atal imaami lahu qiroo’atun

Artinya :

“Barangsiapa yang mengerjakan sholat dibelakang imam (bermakmum), maka sesungguhnya bacaan imam adalah menjadi bacaannya.”

b. Ulama Syafi’iyah mewajibkan secara mutlaq.

1. Firman Allah SWT :

“Bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an.” (QS. Al-Muzzammil (83) : 20)

2. Al-Hadits

a. Sesungguhnya rosululloh SAW, bersabda :

“ Laa sholaata illa biqiroo’atin “

Artinya :

“Tidaklah sah sholat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

b. Rosululloh SAW, bersabda

“ Laa sholaata liman lam yaqro bifaatihatil kitaab “

Artinya :

“Tidak ada sholat (tidak sah), kecuali dengan bacaan Fatihah”

(HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tarmidzi, An-Nasa’I, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad dari ‘Ubaadah bin Shamit).

c. Juga ulama Syafi’iyah yang berpegang lagi dengan Hadits Abu Hurairoh, yang diangkatnya :

“Barangsiapa yang sholat yang didalamnya tanpa membaca ummul kitab (fatihah), maka sholat itu kurang, tegasnya tidak sempurna.”

Perawi Hadits itu berkata : “Wahai Abu Hurairoh! Sungguh kadang-kadang aku sholat dibelakang imam.” Lalu Abu Hurairoh memegang lenganku dan berkata, “Wahai Farisy, bacalah fatihah untuk dirimu.”Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Dawud.

d. Hadits ‘Ubaadah bin Shamit, ia berkata “Rasululloh SAW. Sholat subuh dan beliau mengeraskan bacaannya. Setelah selesai sholat, beliau bersabda “Saya melihat kalian membaca dibelakang imam?”kami menjawab, “Benar, demi Allah , wahai rosululloh.” Kemudian rosululloh SAW, bersabda :

“ Laa taf’aluu illa biummil qur’ani fainnahu laa sholaata liman lam yaqro’biha “

Artinya :

“Janganlah kamu semua lakukan, kecuali dengan ummul Qur’an (S.Alfatihah, karena sesungguhnya tidak ada sholat bagi orang yang tidak membacanya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Hadits-Hadits ini khusus mengenai bacaan makmum, dan semuanya tegas tentang fardu membaca fatihah.

3. Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa membaca fatihah itu merupakan salah satu rukun sholat, maka ia tidak dapat gugur dari makmum sebagaimana rukun-rukun lainnya.

c. Ulama Malikiyah tidak mewajibkan dan tidak juga melarang. Hanya pada sholat sir disunatkan membacanya.

d. Ulama Hanabilah tidak mewajibkan dan tidak melarang pada saat tidak terdengar bacaan imam, maka sunat membacanya bagi makmum.

source : http://daikembar.wordpress.com/fiqih/hukum-membaca-sal-fatihah-bagi-makmum/